COBA

Minggu, 01 Januari 2012

Menuju Sekolah Unggulan Menghasilkan yang Benar-benar Unggul

Sudah beberapa kali saya mendengar maupun membaca efek anak yang disekolahkan di sekolah “unggulan”, terutama di usia balita. Hasilnya banyak baiknya, anak-anak itu menjadi unggul kepandaiannya, Bahasa Inggris mereka sudah cas cis cus was wus. Hebat kan!
Nah, saat ini adik ipar saya kebetulan menjadi guru pelajaran tambahan salah satu siswa SD mantan sekolah TK “unggulan”. Adik saya bercerita tentang proses selama ia mengajar anak tersebut, kita sebut saja namanya Indah. Orangtua Indah minta agar anaknya ini diberi pelajaran tambahan matematika. Indah yang terbiasa dengan Bahasa Inggris, selama belajar matematika sering memakai Bahasa Inggris. “Five after five….“, seperti itu dia kalau belajar.
Mengajar anak pintar ini bukan tanpa kendala, adik saya mulai sedikit membandingkan dengan keponakannya. Indah anak yang sangat tertutup sedangkan keponakannya sangat periang. Indah sering diam saja ketika menghadapi suatu situasi yang membutuhkan ia membela diri, sedangkan keponkannya sangat ekspresif.
Indah sering kehabisan pensil dan tak jarang harus meraut pensilnya dulu sebelum belajar. Ternyata pensilnya sering diambil teman-temannya di sekolah. Indah juga pernah bercerita kalau pipinya sering dicubit teman-temannya. Namun dia tidak berani melawan ataupun sekadar mengeluarkan protesnya. Adik saya menyarankan kalau dia dicubit lagi, Indah bilang jangan karena sakit.Begitu juga kalau pensil Indah diambil teman, bilang kalau mau pinjam boleh tapi dikembalikan. Dengan polosnya Indah bertanya, “Boleh ya bilang begitu?
Di rumah Indah punya seorang adik. Kalau diganggu adiknya pun Indah hanya bereaksi “Aduh… sakit!” tak ada perlawanan untuk menghentikan gangguan adiknya. Harus menunggu sampai ibunya datang dan menarik adiknya.
Ibu Indah sendiri ternyata tak mampu mengorek isi hati Indah, jadi kalau ada sesuatu yang disampaikan Indah pada adik saya, ibunya meminta untuk segera disampaikan dan kemudian dilanjutkan ke sekolahnya. Ibunya Indah tentu kewalahan dengan sikap Indah yang sangat tertutup ini. Selidik punya selidik, ini dilatarbelakangi pola ajar TK-nya dulu.
TK “unggulan” itu ternyata bukan hanya mampu menghasilkan anak-anak yang pintar dan lebih cepat menguasai ilmu dibandingkan anak-anak seumuran tetapi juga sukses membentuk pribadi tanpa inisiatif. Anak-anak dibentuk sesuai dengan pola target yang mereka harapkan, tapi mereka sepertinya lupa kalau anak-anak juga punya jiwa yang rentan. Pelajaran yang diberikan memang bertujuan baik, tetapi seharusnya dilihat juga batas kemampuan anak menyerap. Pemaksaan secara halus maupun kasar dalam proses belajar anak akan berdampak tidak baik.
Anak bisa saja patuh dan mengikuti pelajaran yang diberikan, tetapi kita juga harus mempertimbangkan sisi kejiwaan anak itu. Secara umum, semakin dini usia anak maka semakin kecil pula rentang konsentrasi anak dalam belajar, dengan kata lain anak mudah bosan. Jika rasa bosan anak itu dibunuh jadilah si anak menjadi pribadi yang penurut dan mengikuti perintah orang dewasa tanpa bisa mengemukakan keinginannya.
Secara iseng saya pernah mencoba melakukan pemaksaan pada anak saya sendiri. Saya ingin melihat dampak kalau saya memaksa anak saya belajar membaca melebihi waktu konsentrasinya. Biasanya saya tidak memaksakan anak saya belajar membaca dan lebih seringnya dia yang meminta belajar, waktu belajar biasanya hanya 10-15 menit. Suatu hari saya mencoba memaksakan belajar melebihi waktu yang jauh lebih lama dari biasanya. Anak saya pada dasarnya adalah anak yang terbuka, mampu mengkomunikasikan perasaannya dengan bahasa yang baik, dan mampu melawan hal-hal yang tidak disenanginya. Tetapi ketika saya menambahkan waktu belajar, dia tidak berani protes namun sudah terlihat tingkat kejenuhannya, dia tetap belajar walaupun dalam kondisi tertekan.
Jika dibandingkan dengan kasus Indah, maka kurang lebih hal seperti itulah yang terjadi pada diri Indah. Dia tetap memaksakan dirinya belajar walaupun dia sudah melewati ambang kemampuannya. Dia belajar dalam kondisi tekanan. Ini berlangsung setiap hari dari pagi sampai sore selama dua tahun. Akhirnya dia menjadi pribadi yang tertutup dan tak mampu mengekspresikan dirinya.  Ketika dia dimasukkan ke sekolah biasa seperti anak-anak umumnya, dia tak mampu melawan hal-hal yang tidak baik. Hal ini sangat mungkin berlanjut, dia akan sering berhadapan dengan kekerasan dan intimidasi dari orang-orang yang bersikap lebih “kejam”.
Kini ibu Indah masih berselisih paham dengan suaminya mengenai pendidikan adik Indah. Suaminya tetap menginginkan Indah bersekolah di sekolah Indah yang dulu, sedangkan ibunya Indah sudah kapok. Suaminya menginginkan agar adiknya Indah bisa sepintar kakaknya, lancar berbahasa Inggris dan cepat menguasai banyak pelajaran dibanding anak-anak umumnya, sedangkan ibunya khawatir anaknya kembali menghadapi tekanan situasi belajar.
Saat ini persaingan di dunia pendidikan semakin menggila. Pola pendidikan seperti kejar-kejaran mencetak anak yang tahu segalanya, akibatnya tak satupun ilmu yang benar-benar didalami secara serius sejak dini. Seharusnya pendidikan bisa diperbaiki dengan pola orientasi kebutuhan anak agar potensi anak semakin bersinar.
Akibat semakin tingginya permintaan mutu pendidikan formal, orangtua semakin stres dan berkeinginan anaknya menjadi super. Anak diberi tambahan belajar hampir setiap hari, apalagi menjelang musim ujian, maka tingkat stres semakin tinggi, orangtua berharap anaknya mendapatkan hasil yang terbaik. Sehingga banyak di antara orangtua yang lupa kalau anak juga butuh dunianya, dunia yang riang gembira tanpa diharuskan belajar terus-menerus, bukankah kita waktu kecil juga senang kalau dibiarkan bermain.
Hasil pendidikan bukanlah semata indeks prestasi yang dapat diukur dengan nilai. Pintar itu harapan orangtua pada anaknya tetapi jangan abaikan karakter yang terbentuk pada anak. Demi generasi penerus bangsa kita seimbangkan kemampuan anak, anak yang cerdas, kreatif, aktif, berinisiatif, dan mampu memimpin dirinya sendiri.
Ketika memilih sekolah anak usia balita, ada baiknya orangtua sesekali mengikuti proses belajarnya. Banyak sekolah-sekolah unggulan yang bertebaran, tetapi jangan lepaskan begitu saja peranan pendidikan pada pihak sekolah. Walau bagaimanapun, orangtua tetap yang paling utama sebagai pendidik dan juga paling tahu bagaimana kondisi anaknya. Tetap dampingi anak dalam kesehariannya, bantu dia mengungkapkan apa yang dipikirkan dan rasakan, inilah yang akan membantu dia sebagai manusia yang terbuka nantinya. Sehingga efek menyekolahkan anak di sekolah unggul berhasil bukan hanya untuk pendidikan formal saja tetapi juga pribadi siswanya.
1324279792243556551
Berilah kesempatan anak bermain, berani, dan berinisiatif

0 komentar:

Poskan Komentar

WELCOME IN MY BLOG

WELCOME IN MY BLOG

musik

Pengikut